Plak pembuluh darah penyebab penyakit jantung

Pembengkakan (radang) adalah reaksi alami tubuh terhadap luka. Peradangan bisa terjadi di mana saja di kulit, di dalam tubuh, dan bahkan di dalam arteri. Ilmuwan yang sekarang belajar peradangan mungkin berperan dalam banyak penyakit yang menyertai penuaan, termasuk penyakit arteri koroner.

Selama bertahun-tahun, dokter berpikir bahwa penyebab utama serangan jantung atau stroke atau penumpukan plak lemak di dalam arteri, mengarah ke jantung atau otak. Pada waktunya, penumpukan plak akan menyempitkan arteri begitu banyak, sehingga arteri akan menutup atau tersumbat oleh gumpalan darah. Kurangnya oksigen dalam darah ke jantung kemudian akan menyebabkan serangan jantung. Namun jenis penyumbatan ini menyebabkan hanya sekitar 3 dari 10 serangan jantung.

Periset menemukan bahwa orang-orang yang serangan jantungnya tidak memiliki arteri yang sangat sempit karena plak. Plak rentan menempel di dalam dinding arteri, dan membuat tonjolan yang menghalangi aliran darah yang melalui arteri. Inilah sebabnya mengapa para periset mulai melihat bagaimana peradangan mempengaruhi arteri, dan untuk melihat apakah peradangan bisa menyebabkan serangan jantung.

Apa yang mereka temukan adalah bahwa peradangan mengarah pada pengembangan plak "lunak" atau rentan. Mereka juga menemukan bahwa plak rentan lebih dari sekadar puing yang menyumbat arteri, sehingga dipenuhi dengan jenis sel yang berbeda yang membantu pembekuan darah.

Bila peradangan ini dikombinasikan dengan tekanan lainnya, seperti tekanan darah tinggi, hal itu dapat menyebabkan lapisan tipis menutupi plak retak dan berdarah, menumpahkan seluruh isi plak yang rentan ke dalam aliran darah. Sitokin lengket di dinding arteri menangkap sel darah (terutama trombosit) yang terburu-buru ke lokasi luka. Saat sel-sel ini saling menggumpal, mereka bisa membentuk gumpalan yang cukup besar untuk menghalangi arteri.
CATATAN PENTING : Informasi dalam website ini bersifat edukasi dan untuk wawasan saja. Jika Anda memiliki masalah kesehatan tertentu, konsultasikan dengan dokter / tenaga medis.
Image Credit : https://goo.gl/ESXP68